0
 
1.     Auguste Comte (1798-1897)
Auguste Comte, seorang prancis, merupakan bapak sosiologi yang pertama-tama memberi nama pada ilmu tersebut (yaitu dari kata-kata socius dan logos  . walaupun dia tidak menguraikan secara rinci masalah-masalah yang menjadi objek sosiologi, dia mempunyai anggapan bahwa sosiologi terdiri dari dua bagian pokok, yaitu social statistics dan social dynamics. Konsepsi tersebut merupakan pembagian dari isi sosiologi yang sifatnya pokok sekali. Sebagai social statistic, sosiologi merupakan sebuah ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara lembaga-lembaga kemasyarakatan. Sementara itu, social dynamics meneropong bagaimana lembaga-lembaga tersebut berkembang dan mengalami perkembangan sepanjang masa. Perkembangan tersebut pada hakikatnya melewati tiga tahap:
a.       Tahap Teologis
b.      Tahap Metafisis
                                           c.       Tahap Positif


      2.     Herbert Spencer (1820-1903)
Dalam bukunya  berjudul The Principles of Sociology, Herbert Spencer menguraikan meteri sosiologi secara rinci dan sistematis. Spencer mengatakan bahwa objek sosiologi yang pokok adalah keluarga, politik, agama, pengendalian social, dan industri. Sebagai tambahan disebutkannya asosiasi, masyarakat setempat, pembagian kerja, lapisan social, sosiologi pengetahuan dan ilmu pengetahuan, serta penelitian terhadap kesenian, dan keindahan.
Tidak lupa dia menekankan bahwa sosiologi harus menyoroti hubungan timbal balik antara unsur-unsur masyarakat seperti pengaruh norma-norma atas kehidupan keluarga, hubungan antara lembaga politik dengan lembaga keagamaan. Unsur-unsur masyarakat tadi mempunyai hubungan yang tetap dan harmonis, serta merupakan suatu integrasi.







      3.     Emile Durkheim (1858-1917)
Menurut Emile Durkheim, sosiologi meneliti lembaga-lembaga dalam masyarakat dan proses-proses social. Dalam sebuah majalah sosiologi yang pertama, yaitu L’annee Sociologique, dia mengklasifikasi pembagian sosiologi atas tujuh seksi, yaitu:
   a.       Sosiologi umum yang mencakup kepribadian individu dan kelompok manusia;
      b.      Sosiologi agama;
    c.       Sosiologi hokum dan moral yang mencakup organisasi politik, organisasi sosial, perkawinan dan keluarga;
      d.      Sosiologi tentang kejahatan;
      e.       Sosiologi ekonomi yang mencakup ukuran-ukuran penelitian dan kelompok kerja;
      f.        Demografi yang mencakup masyarakat perkotaan dan pedesaan;
      g.       Dan sosiologi estetika.
Dia juga menekankan pentingnya penelitian perbandingan karena sosiologi merupakan ilmu mengenal masyarakat.
Durkheim mengulas solidaritas dan angka bunuh diri dalam masyarakat bersahaja sebagai bersifat mekanis karena sifatnya yang spontan, sedangkan pada masyarakat yang kompleks bersifat organis.




    4.     Max Weber (1864-1920)
Sosiologi dikatakannya sebagai ilmu yang berusaha memberikan pengertian tentang aksi-aksi sosial.
Disamping terkenal dengan metode “pengertian”nya (method of understanding). Max Weber juga terkenal dengan teori ideal typus. Ideal typus merupakan suatu konstruksi dalam pikiran seorang peneliti yang dapat digunakan sebagai alat untuk menganalisis  gejala-gejala dalam masyarakat. Ajaran-ajaran Max Weber amat menyumbang perkembangan sosiologi, misalnya analisisnya tentang wewenang, birokrasi, sosiologi agama, organisasi-organisasi ekonomi, dan seterusnya.

Post a Comment

 
Top